Oleh: arawinda | Juni 17, 2013

Saipeh: Sandal Jepit kan Membawamu ke Jogja

Nama: Saifah
Nama panggilan: Saipeh, Ipeh, kumel, sandal jepit, makhluk mutan.
Tempat lahir: katanya sih di balai bambu.
Tanggal lahir: bentar, mau tanya Emak dulu.*ngacir*
kondisi saat lahir: tidak menangis, tidak bicara, tidak melek, tidak ingat apapun, dikasih minum air sumur lalu nangis gak bisa diem.
Kesukaan: segala hal berwarna ungu.
Hobi: ngupil, nulis, ngupil, nulis, ngupil, nulis.
Nama saudara: Upat dan Upit
Kriteria suami: yang biasa aja. Biasa bawa dompet tebal berisi uang bukan kertas koran.
Paling suka sama ikhwan yang pakai sandal jepit.

sahabat Saipeh.
Nama: Kayla Cantika
Nama panggilan: Kayla, Kay, bangkay, somay, bombay, capcay, jijay
Tempat lahir: ya di kasur lah.
Tanggal lahir: 2 Januari 1990
Kondisi lahir: senyum manis, menyapa semua audiens dengan kalimat “haaaay assalamu’alaikum”
Hobi: nyetrika
Warna favorit: hitam-putih
Kriteria suami idaman: yang baik dan setia.
kesan: aku senang sekali.
Cita-cita: jadi pengusaha butik.

Nama: Satria Piningit
Nama panggilan: Bang Sat, Mas Tri, Mas Tria, Satria.
Tempat tanggal lahir: rumah sakit, 3 Februari 1987
Nama saudara: Amru dan Safira.
Kondisi saat lahir: langsung teriak Allahu akbaaaaar!
Kondisi kejiwaan: masih normal, ganteng, cool, kalem, pendiam, dan sopan.
Hobi: jalan-jalan.
Pendidikan: FK UGM
Cita-cita: jadi dokter

Oleh: arawinda | Juni 17, 2013

Saipeh: Sandal Jepit kan Membawamu ke Jogja

Nama: Saifah
Nama panggilan: Saipeh, Ipeh, kumel, sandal jepit, makhluk mutan.
Tempat lahir: katanya sih di balai bambu.
Tanggal lahir: bentar, mau tanya Emak dulu.*ngacir*
kondisi saat lahir: tidak menangis, tidak bicara, tidak melek, tidak ingat apapun, dikasih minum air sumur lalu nangis gak bisa diem.
Kesukaan: segala hal berwarna ungu.
Hobi: ngupil, nulis, ngupil, nulis, ngupil, nulis.
Nama saudara: Upat dan Upit
Kriteria suami: yang biasa aja. Biasa bawa dompet tebal berisi uang bukan kertas koran.
Paling suka sama ikhwan yang pakai sandal jepit.

sahabat Saipeh.
Nama: Kayla Cantika
Nama panggilan: Kayla, Kay, bangkay, somay, bombay, capcay, jijay
Tempat lahir: ya di kasur lah.
Tanggal lahir: 2 Januari 1990
Kondisi lahir: senyum manis, menyapa semua audiens dengan kalimat “haaaay assalamu’alaikum”
Hobi: nyetrika
Warna favorit: hitam-putih
Kriteria suami idaman: yang baik dan setia.
kesan: aku senang sekali.
Cita-cita: jadi pengusaha butik.

Nama: Satria Piningit
Nama panggilan: Bang Sat, Mas Tri, Mas Tria, Satria.
Tempat tanggal lahir: rumah sakit, 3 Februari 1987
Nama saudara: Amru dan Safira.
Kondisi saat lahir: langsung teriak Allahu akbaaaaar!
Kondisi kejiwaan: masih normal, ganteng, cool, kalem, pendiam, dan sopan.
Hobi: jalan-jalan.
Pendidikan: FK UGM
Cita-cita: jadi dokter

Oleh: arawinda | April 2, 2013

Kerudung Punuk Unta

Ada seorang pengajar di sebuah kampus, seorang
dosen wanita yang terkenal dengan gaya
berpakaiannya yang modis. Dia kerap mengkritik
pakaian mahasiswinya yang menurutnya kuno
dan terlihat tua. Maka, seharusnya berpakaianlah
yang modis agar tampak muda. Begitu sarannya. Pakaian yang menurutnya kuno tidak lain adalah
jilbab dan kerudung. Yang lebar dan menutup
aurat dengan sempurna. Sebaliknya yang
dimaksud dengan pakaian modis adalah yang
tidak longgar, kerudung tidak lebar dan berwarna
cerah. Namun tahukah Ukhti, mode kerudung dan jilbab
zaman sekarang tidak semuanya sesuai syariat?
Ada istilah kerudung punuk onta. Apakah itu? Dan
bagaimana hukumnya memakai kerudung punuk
unta? Dari Abu Hurairah ra, beliau berkata bahwa
Rasulullah saw bersabda: “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang
belum pernah aku lihat. Suatu kaum yang memiliki
cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia
dan para wanita yang berpakaian tapi telanjang,
berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk
unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya,
walaupun baunya tercium selama perjalanan
sekian dan sekian.” (HR Muslim no 2128). Kerudung sekarang bukan hanya sekadar busana muslimah, melainkan menjadi mode dan trend di kalangan muslimah. Juga dipopulerkan oleh para
selebritis. Kerudung yang lebar hingga menutup
dada dianggap kuno dan tidak menarik. “Sebagai perempuan, kalian harus bisa
berpenampilan menarik. Memakai kerudung akan
membuat wajah kalian terlihat lebih tua dua tahun.
Karena itu kita harus mengimbanginya dengan
memakai kerudung yang modis dan berwarna
cerah” tambah sang pengajar itu. Kita tidak salah memakai pakaian yang modis dan
menarik. Hanya, harus diperhatikan betul-betul
bahwa pakaian yang syar’i adalah pakaian yang
menutup aurat dengan sempurna, tidak
transparan, tidak menampakkan lekuk-lekuk
tubuh, tidak menguarkan bau wewangian, tidak menampakkan tonjolan di bagian kepala sebab
itulah yang disebut “punuk unta” karena
bentuknya yang mirip. Kita tidak dilarang memakai kerudung atau
pakaian yang bagus dan indah, karena itu adalah
sebagian dari tanda mensyukuri nikmat Allah.
Namun janganlah kita memakai pakaian yang
menyalahi aturan syariat. Allah swt sudah menetapkan aturan yang baku
dalam hal berpakaian untuk muslimah. Yakni,
pakailah jilbab (kain panjang berupa baju kurung
yang mengulur hingga ke bawah mata kaki dan
tidak ada potongan) dan kerudung (mengulur hingga menutupi dada). Ketika Allah memerintahkan atau melarang sesuatu, pasti ada
hikmahnya yang bisa saja kita tidak
mengetahuinya karena keterbatasan akal kita. Oleh
karena itu, laksanakanlah perintahnya dengan hati
yang lapang dan ikhlas tanpa membantah. Seandainya kita umpamakan dengan aturan
memakai helm SNI bagi pengendara motor,
bagaimana kalau ada pengendara yang ngeyel
memakai selain helm yang tidak SNI? Atau malah
memakai blangkon, topi, caping atau malah tidak
memakai apa-apa? Jelas ini akan membahayakan pengendara itu kan? Ikuti aturan, insya Allah kita
selamat di dunia maupun di akhirat. Insya Allah.
Aamiin. [yA]

Sumber:
http://www.elthof.com/kerudung-punuk-unta/

Oleh: arawinda | April 2, 2013

Kemuliaan Muslimah

Kalau kita jalan-jalan ke Jakarta, naik bus
Transjakarta tentu akan menemui satu bagian
khusus wanita termasuk muslimah. Begitu pula
dengan kereta, ada gerbong khusus wanita.
Mengapa ada gerbong atau ruangan khusus
wanita? Tak lain adalah sejak terjadinya banyak pelecehan yang terjadi atas wanita di angkutan
umum. Baru-baru ini juga banyak kasus
pemerkosaan di angkot. Masya Allah. Sangat
mengerikan bagi kita para wanita, seakan tak ada
lagi ruang aman bagi kita di ranah publik. Bahaya
senantiasa mengancam dan siap menerkam para wanita. Sebenarnya, dalam hal ini ada dua pihak yang
saling ada timbal balik. Pihak laki-laki jahat yang
mengumbar nafsunya tidak pada tempatnya, dan
pihak wanita yang mengumbar auratnya juga tidak
pada tempatnya. Memperlihatkan bagian tubuh
yang membuat para lelaki tergugah hasratnya. Satu kalangan menyalahkan “rok mini” yang
dikenakan wanita, dan kalangan lain yang
membela wanita itu dengan menyalahkan para
lelaki yang “otaknya mini”. Yang dipikirkan seputar
wanita saja. Tentu, jika terus saling menyalahkan,
masalah ini akan terus berulang. Lalu bagaimana seharusnya wanita bertindak dalam kehidupan
umum agar tidak terjadi pelecehan serupa? Islam Memuliakan Muslimah Dalam Islam, kaum wanita dimuliakan dengan
aturan-aturannya. Ada aturan menutup aurat,
dengan cara mengulurkan jilbab hingga menutup
mata kaki dan mengenakan khimar hingga
menutup dada. Dengan pakaian ini, martabat muslimah akan terjaga dengan baik. Tidak akan ada yang berani melecehkan karena segan dan
hormat serta tidak terbersit hawa nafsunya. Sebab
laki-laki adalah makhluk yang kelemahannya ada
pada pandangan matanya, oleh sebab itu kalau
laki-laki itu normal tentu akan tertarik pada wanita
yang berpenampilan “aduhai”. Memang dia salah, sebab tidak bisa menjaga pandangannya. Namun
disalahkan sepenuhnya juga tidak bisa, karena di
mana ada asap pasti ada apinya. Ya wanita yang
mengumbar auratnya tadi, yang seolah menantang
kaum adam tetapi saat diserang mereka tak punya
daya untuk melawan. Ukhty, Islam membuat aturan bukan untuk
mengekang kebebasan kaum muslimah. Aturan-
aturan-Nya adalah untuk memuliakan muslimah.
Menggunakan jilbab dan kerudung supaya tidak
diganggu, supaya bisa dibedakan dengan wanita
murahan. Bukankah barang berharga itu disimpan di tempat tertutup dalam etalase yang berbeda
dengan barang obralan yang dijejer di pinggir jalan
yang pembungkusnya saja sudah tak ada? Tertutupnya aurat muslimah tidak akan menjadikannya terbatas ruang geraknya. Justru
akan menambah keanggunan dan keindahan
muslimah itu sendiri. Jauh dari gangguan dan tidak
akan sembarangan orang mencolek-colek sebab
bukan mahramnya. Hanya suaminya kelak yang
dengan kesaktian akad nikah yang boleh melihat keindahan muslimah itu. Seandainya semua muslimah sadar bahwa setiap
aturan Allah itu selain bernilai ibadah, juga demi
kebaikan manusia juga. Namun benarlah bahwa
sebagian besar manusia itu tidak bersyukur. Tidak
memikirkannya, dan tidak mengambil pelajaran.
Semoga kita termasuk muslimah yang diridhoi-Nya. Aamiin. (yA)

Sumber:

http://www.elthof.com/kemuliaan-muslimah/

Oleh: arawinda | Maret 27, 2013

Keluarga Sakinah Dambaan Umat Islam

Doa yang populer dan dianjurkan oleh Rasulullah
ketika mendoakan orang yang menikah adalah
supaya mereka mendapat keberkahan dan diliputi
kebaikan dalam bangunan keluarga sakinah.
Barokallah lakuma wa baroka alaikuma wajama’a
baynakuma fii khoir. Maknanya sangat dalam, betapa kita mengharapkan kehidupan
berkeluarga yang penuh barokah dan kebaikan. Makna barokah adalah ziyadatu ni’mat. Bertambah
kenikmatan. Yakni, penuh kesyukuran atas setiap
karunia yang diberikan oleh Allah swt kepada
setiap insan. Sebagaimana janji Allah dalam al-
Qur’an, bahwa bila kita bersyukur maka Allah akan
menambah kenikmatan untuk kita. Sebaliknya kalau kita kufur nikmat, maka azab Allah sangat
pedih. Doa lain yang sering kita dengar adalah “selamat
menempuh hidup baru, semoga menjadi keluarga sakinah, mawadah warohmah”. Kalimat itu karena seringnya kita dengar, mungkin menjadi biasa saja.
Padahal, makna kata sakinah, mawadah wa
rohmah itu sungguh luar biasa. Tenang, penuh kasih dan sayang. Itulah maknanya
yang sangat kita harapkan bisa terwujud dalam
rumah tangga yang kita bangun. Siapa yang tidak
ingin bahagia dalam pernikahannya? Tentu siapa
saja yang memutuskan untuk menikah,
mengharapkan rumah tangganya selalu dilingkupi kebaikan dan kebahagiaan. Bukan hanya cinta
yang dibutuhkan, melainkan kasih dan sayang.
Inilah yang akan sulit dilakukan apalagi kalau
pernikahan berlangsung selama bertahun-tahun
hingga senja usia. Tantangannya pun banyak. Tak
jarang, banyak yang bahtera pernikahannya terhempas badai bahkan karam di tengah jalan
sebelum sampai di tujuan. Pernikahan baru berjalan sekian bulan atau tahun,
tiba-tiba didera masalah kemudian bercerai.
Bukankah itu menyakitkan bagi kedua belah pihak
dan akan berimbas pada anak-anak? Oleh
karenanya, pernikahan tak cukup hanya dengan
cinta. Butuh kasih sayang, butuh ilmu untuk mengatasi setiap permasalahan yang hadir di
rumah kita. Muslimah yang sholehah, qonaah pada setiap yang
didapatkan dari suaminya, serta suami yang sabar
dan penuh kasih sayang, serta saling pengertian di
antara kedua pihak adalah kunci kebahagiaan
dalam rumah tangga. Banyak kisah perceraian
yang berawal dari istri yang tidak qonaah, yang selalu menuntut suaminya untuk memberikan
segala yang dia inginkan tanpa mengukur
kemampuan suaminya. Banyak pula kisah tragis
dalam rumah tangga diakibatkan suami yang tidak
sabar, sehingga seringkali menyiksa istrinya,
sampai terjadi kekerasan dalam rumah tangga. Kita semua berharap, sejak awal pernikahan untuk
menjadi keluarga sakinah, mawadah wa rohmah. Namun harapan harus diimbangi dengan
ikhtiar, bukan? Sekadar berharap tanpa usaha, itu
namanya angan-angan belaka. Maka mewujudkan
rumah tangga yang penuh ketentraman
membutuhkan usaha yang besar. Bagaimana kita
harus bisa menahan keinginan kita demi kebahagiaan pasangan. Bagaimana kita kadang
harus bersabar atas kelakuan buruk pasangan.
Bagaimana kita harus setia mendampinginya
apapun keadaan diri pasangan dan terus
bersamanya meskipun hidup susah. Sejatinya, ketenangan itu adalah tujuan
pernikahan. Agar kita bisa tenang beribadah
kepada Allah karena separuh agama kita telah
digenapkan oleh pasangan. Agar kita bisa tenang
menjalani sisa usia bersama orang yang juga siap
menanggung segala beban hidup bersama kita untuk nantinya bisa bersama-sama hidup di surga. Memahami tugas masing-masing pun sangat
penting. Bayangkan kalau kedua pihak tidak mau
menunaikan kewajibannya, maka akan terjadi
keterbengkalaian tugas dan saling menyalahkan.
Siapa yang senang kalau terjadi perceraian?
Setanlah yang akan senang. Karena itulah, mari kita tekadkan dalam hati untuk
menjadikan keluarga kita keluarga sakinah,
mawadah wa rohmah hingga ke surga-Nya kelak.
Aamiin…. (yA)

Oleh: arawinda | Maret 27, 2013

Keluarga Sakinah Dambaan Umat Islam

Doa yang populer dan dianjurkan oleh Rasulullah
ketika mendoakan orang yang menikah adalah
supaya mereka mendapat keberkahan dan diliputi
kebaikan dalam bangunan keluarga sakinah.
Barokallah lakuma wa baroka alaikuma wajama’a
baynakuma fii khoir. Maknanya sangat dalam, betapa kita mengharapkan kehidupan
berkeluarga yang penuh barokah dan kebaikan. Makna barokah adalah ziyadatu ni’mat. Bertambah
kenikmatan. Yakni, penuh kesyukuran atas setiap
karunia yang diberikan oleh Allah swt kepada
setiap insan. Sebagaimana janji Allah dalam al-
Qur’an, bahwa bila kita bersyukur maka Allah akan
menambah kenikmatan untuk kita. Sebaliknya kalau kita kufur nikmat, maka azab Allah sangat
pedih. Doa lain yang sering kita dengar adalah “selamat
menempuh hidup baru, semoga menjadi keluarga sakinah, mawadah warohmah”. Kalimat itu karena seringnya kita dengar, mungkin menjadi biasa saja.
Padahal, makna kata sakinah, mawadah wa
rohmah itu sungguh luar biasa. Tenang, penuh kasih dan sayang. Itulah maknanya
yang sangat kita harapkan bisa terwujud dalam
rumah tangga yang kita bangun. Siapa yang tidak
ingin bahagia dalam pernikahannya? Tentu siapa
saja yang memutuskan untuk menikah,
mengharapkan rumah tangganya selalu dilingkupi kebaikan dan kebahagiaan. Bukan hanya cinta
yang dibutuhkan, melainkan kasih dan sayang.
Inilah yang akan sulit dilakukan apalagi kalau
pernikahan berlangsung selama bertahun-tahun
hingga senja usia. Tantangannya pun banyak. Tak
jarang, banyak yang bahtera pernikahannya terhempas badai bahkan karam di tengah jalan
sebelum sampai di tujuan. Pernikahan baru berjalan sekian bulan atau tahun,
tiba-tiba didera masalah kemudian bercerai.
Bukankah itu menyakitkan bagi kedua belah pihak
dan akan berimbas pada anak-anak? Oleh
karenanya, pernikahan tak cukup hanya dengan
cinta. Butuh kasih sayang, butuh ilmu untuk mengatasi setiap permasalahan yang hadir di
rumah kita. Muslimah yang sholehah, qonaah pada setiap yang
didapatkan dari suaminya, serta suami yang sabar
dan penuh kasih sayang, serta saling pengertian di
antara kedua pihak adalah kunci kebahagiaan
dalam rumah tangga. Banyak kisah perceraian
yang berawal dari istri yang tidak qonaah, yang selalu menuntut suaminya untuk memberikan
segala yang dia inginkan tanpa mengukur
kemampuan suaminya. Banyak pula kisah tragis
dalam rumah tangga diakibatkan suami yang tidak
sabar, sehingga seringkali menyiksa istrinya,
sampai terjadi kekerasan dalam rumah tangga. Kita semua berharap, sejak awal pernikahan untuk
menjadi keluarga sakinah, mawadah wa rohmah. Namun harapan harus diimbangi dengan
ikhtiar, bukan? Sekadar berharap tanpa usaha, itu
namanya angan-angan belaka. Maka mewujudkan
rumah tangga yang penuh ketentraman
membutuhkan usaha yang besar. Bagaimana kita
harus bisa menahan keinginan kita demi kebahagiaan pasangan. Bagaimana kita kadang
harus bersabar atas kelakuan buruk pasangan.
Bagaimana kita harus setia mendampinginya
apapun keadaan diri pasangan dan terus
bersamanya meskipun hidup susah. Sejatinya, ketenangan itu adalah tujuan
pernikahan. Agar kita bisa tenang beribadah
kepada Allah karena separuh agama kita telah
digenapkan oleh pasangan. Agar kita bisa tenang
menjalani sisa usia bersama orang yang juga siap
menanggung segala beban hidup bersama kita untuk nantinya bisa bersama-sama hidup di surga. Memahami tugas masing-masing pun sangat
penting. Bayangkan kalau kedua pihak tidak mau
menunaikan kewajibannya, maka akan terjadi
keterbengkalaian tugas dan saling menyalahkan.
Siapa yang senang kalau terjadi perceraian?
Setanlah yang akan senang. Karena itulah, mari kita tekadkan dalam hati untuk
menjadikan keluarga kita keluarga sakinah,
mawadah wa rohmah hingga ke surga-Nya kelak.
Aamiin…. (yA)

Oleh: arawinda | Maret 27, 2013

Keluarga Sakinah Dambaan Umat Islam

Doa yang populer dan dianjurkan oleh Rasulullah
ketika mendoakan orang yang menikah adalah
supaya mereka mendapat keberkahan dan diliputi
kebaikan dalam bangunan keluarga sakinah.
Barokallah lakuma wa baroka alaikuma wajama’a
baynakuma fii khoir. Maknanya sangat dalam, betapa kita mengharapkan kehidupan
berkeluarga yang penuh barokah dan kebaikan. Makna barokah adalah ziyadatu ni’mat. Bertambah
kenikmatan. Yakni, penuh kesyukuran atas setiap
karunia yang diberikan oleh Allah swt kepada
setiap insan. Sebagaimana janji Allah dalam al-
Qur’an, bahwa bila kita bersyukur maka Allah akan
menambah kenikmatan untuk kita. Sebaliknya kalau kita kufur nikmat, maka azab Allah sangat
pedih. Doa lain yang sering kita dengar adalah “selamat
menempuh hidup baru, semoga menjadi keluarga sakinah, mawadah warohmah”. Kalimat itu karena seringnya kita dengar, mungkin menjadi biasa saja.
Padahal, makna kata sakinah, mawadah wa
rohmah itu sungguh luar biasa. Tenang, penuh kasih dan sayang. Itulah maknanya
yang sangat kita harapkan bisa terwujud dalam
rumah tangga yang kita bangun. Siapa yang tidak
ingin bahagia dalam pernikahannya? Tentu siapa
saja yang memutuskan untuk menikah,
mengharapkan rumah tangganya selalu dilingkupi kebaikan dan kebahagiaan. Bukan hanya cinta
yang dibutuhkan, melainkan kasih dan sayang.
Inilah yang akan sulit dilakukan apalagi kalau
pernikahan berlangsung selama bertahun-tahun
hingga senja usia. Tantangannya pun banyak. Tak
jarang, banyak yang bahtera pernikahannya terhempas badai bahkan karam di tengah jalan
sebelum sampai di tujuan. Pernikahan baru berjalan sekian bulan atau tahun,
tiba-tiba didera masalah kemudian bercerai.
Bukankah itu menyakitkan bagi kedua belah pihak
dan akan berimbas pada anak-anak? Oleh
karenanya, pernikahan tak cukup hanya dengan
cinta. Butuh kasih sayang, butuh ilmu untuk mengatasi setiap permasalahan yang hadir di
rumah kita. Muslimah yang sholehah, qonaah pada setiap yang
didapatkan dari suaminya, serta suami yang sabar
dan penuh kasih sayang, serta saling pengertian di
antara kedua pihak adalah kunci kebahagiaan
dalam rumah tangga. Banyak kisah perceraian
yang berawal dari istri yang tidak qonaah, yang selalu menuntut suaminya untuk memberikan
segala yang dia inginkan tanpa mengukur
kemampuan suaminya. Banyak pula kisah tragis
dalam rumah tangga diakibatkan suami yang tidak
sabar, sehingga seringkali menyiksa istrinya,
sampai terjadi kekerasan dalam rumah tangga. Kita semua berharap, sejak awal pernikahan untuk
menjadi keluarga sakinah, mawadah wa rohmah. Namun harapan harus diimbangi dengan
ikhtiar, bukan? Sekadar berharap tanpa usaha, itu
namanya angan-angan belaka. Maka mewujudkan
rumah tangga yang penuh ketentraman
membutuhkan usaha yang besar. Bagaimana kita
harus bisa menahan keinginan kita demi kebahagiaan pasangan. Bagaimana kita kadang
harus bersabar atas kelakuan buruk pasangan.
Bagaimana kita harus setia mendampinginya
apapun keadaan diri pasangan dan terus
bersamanya meskipun hidup susah. Sejatinya, ketenangan itu adalah tujuan
pernikahan. Agar kita bisa tenang beribadah
kepada Allah karena separuh agama kita telah
digenapkan oleh pasangan. Agar kita bisa tenang
menjalani sisa usia bersama orang yang juga siap
menanggung segala beban hidup bersama kita untuk nantinya bisa bersama-sama hidup di surga. Memahami tugas masing-masing pun sangat
penting. Bayangkan kalau kedua pihak tidak mau
menunaikan kewajibannya, maka akan terjadi
keterbengkalaian tugas dan saling menyalahkan.
Siapa yang senang kalau terjadi perceraian?
Setanlah yang akan senang. Karena itulah, mari kita tekadkan dalam hati untuk
menjadikan keluarga kita keluarga sakinah,
mawadah wa rohmah hingga ke surga-Nya kelak.
Aamiin…. (yA)

Oleh: arawinda | September 17, 2012

Safir Cinta: Dwilogi Perempuan Meniti Cahaya

Judul Buku : Safir Cinta
Penulis : Faradina Izdhihary
Penerbit : WritingRevo Publishing
Tahun Terbit : 2012
Genre: Roman
Tebal :276 halaman Sinopsis
Reysa adalah seorang wanita mandiri yang sukses.
Wajah yang cantik, otak yang cerdas, supel dalam
bergaul memudahkannya dalam meraih kesuksesan.
Suaminya, Bram sangat mendukung kariernya.
Dikaruniai dua orang anak, Natt dan Naila. Cerita diawali dengan pertemuan Reysa dengan
Faradina, teman lamanya. Tiba-tiba saja Reysa
meminta Dina untuk menuliskan kisah hidupnya
menjadi semacam biografi untuk anak-cucunya
kelak. Reysa beralasan, bahwa usianya tak akan
lama lagi. Ia mengaku sering dihantui bayang- bayang kematian.
Faradina menyanggupi permintaan Reysa. Ia
mendengar kisah hidup Reysa, ibunya dan
neneknya yang ternyata saling berkaitan. Neneknya
dulu diperkosa entah oleh siapa lalu lahirlah Endang,
ibunya Reysa. Kemiskinan memaksanya hidup penuh kerja keras. Sementara suaminya yang
notabene bukan ayah kandung Endang hanyalah
pengangguran, tukang mabok dan tukang main
perempuan.
Endang pun pacaran dengan Edwin, anak seorang
mandor tebu yang kaya raya. Sayangnya, apa yang dialami ibunya menurun padanya. Ia hamil di luar
nikah, meski dengan alasan suka sama suka. Ayah
tirinya, justru memperkosanya dan mengambil
keuntungan dengan mengambil uang dari ibu Edwin
untuk dirinya sendiri. Padahal uang itu dimaksudkan
agar keluarga Endang tidak terus meminta pertanggungjawaban Edwin.
Edwin yang mengetahui hal itu marah lantas minggat
dengan harapan orangtuanya akan meminta maaf
padanya dan menikahkan dirinya dengan Endang
namun di tengah perjalanan ia tertabrak truk.
Endang yang mengetahui hal itu sangat bersedih, dikabarkan bahwa Edwin telah meninggal ia pun
menikah dengan suami bayaran, Mulyono. Mulyono
yang tampak sopan itu ternyata adalah pria miskin
beristri dua yang kerapkali mengumpulkan ketiga
istrinya dalam satu kamar lalu disiksanya. Karena tak
tahan dengan perlakuan itu Endang kabur dari rumah suaminya di Pasuruan. Ia kembali ke rumah
orangtuanya tetapi sang ibu telah pergi ke luar
negeri menjadi TKW.
Reysa dibesarkan Endang dengan penuh sayang.
Sendirian ia mendidik Reysa agar menjadi wanita
mandiri dan cerdas dan jangan tergantung pada laki-laki. Terbukti Reysa menjadi anak yang cerdas di
sekolah, sering menjadi juara dan bisa memasuki
jenjang kuliah. Setelah menikah dengan Bram dan
dikaruniai dua anak perempuan, justru Reysa mulai
melampiaskan dendamnya kepada laki-laki di masa
lalu nenek dan ibunya dengan cara berselingkuh dengan siapa saja lalu meninggalkan mereka di saat
mereka sudah cinta mati padanya. Bram sama sekali
tak curiga, ia terus mendukung karier Reysa.
Hal tak terduga terjadi. Salah satu pacarnya
mengajak Reysa menikah. Reysa berpikir inilah saat
yang tepat untuk meninggalkannya. Akan tetapi Kevin tak mau tinggal diam. Dia meneror Reysa setiap
waktu bahkan dengan ancaman mengerikan.
Pada waktu yang bersamaan, Reysa mengenal Mas
Djon, dokter setengah baya yang ditemuinya di
rumah sakit saat menunggui ibunya yang dirawat.
Dokter itu begitu tampan dan Reysa jatih cinta padanya. Ibunya bersikeras memaksa Reysa agar
menjauhi Mas Djon. Reysa enggan. Ia malah semakin
dekat dengannya, bahkan sangat dekat melebihi
hubungan kekasih.
Suatu hari, Reysa ditemukan dalam keadaan tewas
mengenaskan. Diduga Reysa telah dibunuh. Namun kasus kematiannya tak terungkap. Hingga dua
tahun kemudian, Reysa muncul kembali di rumah
Faradina. Apa yang sebenarnya terjadi? Dan
bagaimanakah akhir kisah hidupnya? Siapakah Mas
Djon sebenarnya hingga Endang tak ingin Reysa
dekat dengan dokter itu? Kelebihan
Safir Cinta ditulis dengan bahasa perempuan yang
lembut, mengalir, membuat pembaca seakan menjadi
tokoh dalam cerita tersebut. Apalagi menggunakan
nama Faradina, seolah-olah tokoh-tokoh dalam
cerita ini adalah nyata adanya. Tanpa kesan menggurui, novel yang menceritakan kisah kelam ini
menuntun pembaca menemukan hidayah cinta ilahi
dengan aliran lembut tanpa keterpaksaan. Kekurangan
Terkadang dalam satu paragraf, penulis
menggunakan sudut pandang yang tidak konsisten.
Kadang sudut pandang orang ketiga, kadang orang
pertama. Ending yang menggantung bisa jadi adalah
kekurangan, karena terkesan tidak tuntas. Tapi justru ini menjadi daya tarik bagi pembaca karena
pembaca bisa mereka-reka endingnya sesuai
dengan imajinasinya sendiri. Secara keseluruhan, novel ini bagus dan sangat
layak untuk dibaca dan dimiliki. Penggunaan
peribahasa dan idiom-idiom Jawa menambah kesan
roman yang romantis dan manis. Cerita yang mampu
membuat kita menitikkan airmata haru. Hai para pecinta novel roman … yuuuk ikutan lomba
resensi novel Safir Cinta, karya Faradina Izdihary ….
Ini dia persyaratannya :
1. Peserta berusia 15 tahun ke atas, dibuyktikan
dengan scan KTP atau kartu pelajar yang discann
dan dilampirkan dalam attachment. 2. Membeli dan membaca novel SAFIR CINTA karya
Faradina Izdhihary. Bisa didapatkan di Gramedia
terdekat dan beberapa Togamas. Bisa juga Bisa nyari
di toko buku terdekat atau pesen langsung pada
penulisnya (Faradina Izdhihary/ Faradina Izdhihary
Dua) melalui inboks. 3. Peserta wajib menunjukkan bukti transfer atau
nota pembelian (bisa scan/difoto) dalam attachment
ke email isti.alma@gmail.com subyek RESENSI SAFIR
CINTA.
4. Syarat minimal resensi atau ulasas (khusus lomba
ini) minimal mencakup sinopsis cerita, kelebihan dan kekurangan novel, dan hal yang membuat novel ini
menarik atau layak untuk dimiliki dan dibaca.
5. Peserta harus sudah berteman dengan Faradina
Izdhihary atau Faradina Izdhihary Dua. Bagi yang
belum berteman, silakan add ke Faradina Izdhihary
Dua. 6. Naskah resensi/ulasan yang dilombakan dipublikasikan melalui FB dan jangan lupa tag info
lomba ini ke 20 teman nulis FB kalian, termasuk
Faradina Izdhihary/Faradina Izdhihary Dua dan
Penerbit Writing Revolution. (Untuk naskah yang
juga dipublikasikan di blog, disertai linknya, akan
mendapat poin tambahan penilaian). 7. Naskah lomba dikirim dalam attachment ke
isti.alma@gmail.com dilengkapi: bukti transfer/nota
pembelian, foto diri dan buku Safir Cinta, bio data,
dan nomor rekening Anda
DL 1 OKTOBER 2012 JAM 24.00 WIB teng!! Naaah,
tunggu apalagi? ayo segera ikutan! ditunggu yaaa ….

Oleh: arawinda | Juli 29, 2011

Tak Bisa Dilukiskan

Tak Bisa Dilukiskan

Karya: Nada Nadzira Ayasya Kamal

Santri Kelas 4 Ponpes Tahfidz Al-Qur’an Ibnu Abbas Serang

 

Samar-samar suara adzan maghrib menembus dinding ponpes Ibnu Abbas. Santriwati sudah berkumpul di majelis. Selesai sholat, aku dzikir dan berdoa.

“Ya Allah, ya Tuhanku….! Ampunilah dosa-dosaku. Betapa banyak dosaku pada Ummi…Abi…..aadik…kakak dan saudara-saudara serta saudara muslimku. Ummi….Abi….. Ya Allah jadikanlah aku anak yang berbakti pada kedua orangtuaku, anak yang berguna bagi Nusa, bangsa serta agama. Ya Allah..mudahkan hafalan al-Qur’anku. Buangkan rasa iri dan dengki di hatiku. Buangkan rasa malas yang diterbitkan setan. Ya Allah…..buangkan rasa manjaku! Jadikan aku anak yang shalehah. Aamiin….”

Setelah berdoa, aku kembali ke asrama. Aku pun menangis tersedu-sedu. Teringat Ummi, Abi, dan adek-adekku di rumah. Tapi….aku harus hafalan Qur’an sehabis maghrib. Aku lalu melangkah pelan ke majelis dengan airmata berlinang-linang. Sulit..sulit sekali membendung airmata ini. Haru. Haru sangatttt haru.

Sesampainya di majelis, aku menghafal ayat demi ayat dengan linangan airmata itu sulit, tidak seperti biasanya. Tiba-tiba…

“cetes!” satu butir airmataku menetes ke al-Qur’an. Al-Qur’an pun sedikit basah.

“Eh, Nada kok nangis?” Tanya Mba Ayu. Aku tak menjawab, aku hanya menggeleng.

“Eh napa (kenapa) nangis?” Tanya Mbak Nai. Aku diam tak menjawab lagi. Taktakan-Serang itu sebelah desa sebelah kota, kupandang pohon jambu yang berbaris. Mataku seperti melihat Lampung-Brabasan dan melihat Ummi, serta seluruh keluargaku di rumah. Air mataku pun menetes serta membasahi al-Qur’an  yang kupegang. Tidak hanya satu tetes airmata yang menetes ke al-Qur’anku tetapi………..berpuluh-puluh tetes airmata. Selesai hafalan Qur’an aku pulang ke asrama akhwat(wanita).

Di kamar aku menangis tersedu-sedu. Tapi aku harus sholat Isya ke masjid. Aku lalu mengambil air wudhu. Setelah sholat di masjid, aku pulang ke asrama akhwat. Ada sedikit bayangan Ummi. Setelah bayangan Ummi hilang, aku tidur lelap. Aku bermimpi bertemu Ummi di taman bunga. Beraneka macam bunga tumbuh di taman itu. Ada teratai, mawar, melati, kamboja, tulip, lili dan pacar. Di taman itu ada hujan bunga semerbak harumnya. Di sana Ummi pun berseri dan berkata, “Anakku sang penghafal Qur’an, Ummi bangga padamu. Ayo kita masuk pintu itu!”

Lalu muncullah satu persatu keluargaku. Abi, Kak Salsa, Dik Aura, Dik Rifa, dan Dik Qisthi lalu kami memasuki pintu itu ternyata…………setelah masuk pintu itu di dalamnya adalah surga.

Aku baru ingat orang yang menghafal Qur’an akan disuruh memilih surga, dan dapat mensyafaat  10 orang keluarga tercintanya. Dan dapat member hadiah untuk kedua orangtuanya yang super special hadiahnya berupa mahkota yang sinar kemilaunya melebihi cahaya matahari. Lalu seorang malaikat bertanya, “Mau surga mana yang kau pilih?”

Lalu aku menjawab, “Surga yang terbaik untuk aku dan keluargaku.” Lalu datanglah orang yang berpakaian serba hijau (al-Qur’an). Lalu al-Qur’an berkata, “Ya Allah dia telah membacaku, menghafalku dan mengamalkan isiku! Berikanlah ia mahkota dari cahaya!” kata al-Qur’an sambil memohon dan seterusnya hingga kukuruyuuuuuuukkkk ayam jantan berkokok untuk membangunkan orang sholat subuh aku lalu mengambil air wudhu.

Oleh: arawinda | Agustus 15, 2010

Di Atas Nisan

Edit
Di Atas Nisan
by Yuni Ummu Fatih on Wednesday, August 4, 2010 jam 11:03pm
Ramadhan tahun ini aku kembali menemuimu. Hanya untukmu. Demi menekuri jejak cinta kita, untuk mengenangmu lebih dari doa yang kupanjatkan setiap waktu.
Kukabarkan padamu, bahwa Irsyad, mujahid pertama kita telah memenuhi impian kita. Ia telah hafizh Qur’an kala usianya sepuluh tahun. Sedangkan Fikri, sudah mencapai 20 juz. Usianya delapan tahun, cinta…
Dulu, sesaat sebelum aparat membawamu pergi karena mereka menuduhmu sebagai teroris, aku menangis. Kau hanya memandangku, tak menghapus jejak basah di pipiku. Matamu seakan berkata, “Mengapa engkau menangis? Biarlah di dunia kita teraniaya, di akhirat kita berharap bisa berkumpul dalam jannah-Nya.”
Tatapan yang menyalurkan kekuatan untuk berjuang mendidik para mujahid kita. Kau tak bersedih, karena penjara bagimu adalah tempat rekreasi. Kau bertahan dan bersikeras menolak grasi. Kaukatakan, “Hanya Allah tempatku meminta pertolongan. Kalaupun aku masih hidup sampai detik ini, bukan karena mereka menunda eksekusi terhadapku. Tapi karena Allah belum berkehendak!”
Cinta, kau membuatku menangis ketika akhirnya eksekusi itu dilakukan. Bukan karena aku takut menjadi janda, tapi aku cemburu sebab tak bisa mendampingimu, melainkan mungkin bidadari surga telah dinikahkan denganmu.
Kini, biarkan aku menemui rumah terakhirmu. Izinkan aku dan dua mujahid kita berdoa di atas nisanmu. Yakinlah doa anak-anak kita adalah amalan bagimu yang tiada terputus!

*Cerpen ini diikutkan pada lomba cerpen 200 kata

Older Posts »

Kategori